Tuesday, 26 September 2017

Sigit Sudaryadi : Pendekar PSHT Harus Lebih Bermartabat




POLJATIM || Momentum bulan Muharam 1439 Hijriyah tahun 2017 ini menjadikan satu waktu titik balik terhadap perenungan terhadap konsekuensi hidup berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa yang lebih baik. Tidak terkecuali lagi keberadaan salah satu perguruan silat yang cukup legendaris tidak lain Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) senantiasa harus mampu memberikan nuansa yang teduh, damai terhadap sesama disetiap lingkungan maupun komunitas dimana berada. 

Seperti halnya Sigit Sudaryadi Ketua Ranting PSHT Kecamatan Paron, Ngawi di bulan Muharam atau Syuro mengajak untuk melakukan perenungan sejenak terhadap hakikat hidup yang lebih bermartabat. Ia menandaskan, didalam PSHT telah mengajarkan tidak ada kekuatan apapun diatas manusia yang bisa mengalahkan manusia kecuali kekuatan yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran tersebut telah menjadi keyakinan bagi semua warga PSHT itu sendiri sehingga menjadi kekuatan pribadi maupun persaudaraan.

“Syuro sebagai bulan untuk menundukan kepala kita masing-masing melakukan instropeksi diri terhadap masa lampau yang telah diperbuat. Semua kesalahan menjadikan pengalaman berharga yang akan datang dan perlu diketahui secara mutlak kita ini tidak ada apa-apanya didepan Allah SWT. Sudah menjadi kewajiban untuk berbuat baik terhadap sesama tanpa memandang ras, suku maupun agama. Agar PSHT ini lebih bermartabat sesuai falsafahnya,” terang Sigit Sudaryadi, Selasa (26/09).

Sigit pun berpesan kepada calon pendekar PSHT, didalam ajaranya digembleng sedemikian rupa untuk menguasai dan mengenal ilmu bela diri pencak silat. Tentunya ilmu itu sendiri berlandaskan adat budaya sebagai orang timur yang penuh etika dan prinsip moral. Praktek seni bela diri memiliki tujuan membantu siswa dalam hal ini calon pendekar PSHT agar mengembangkan karakter jujur,terbuka dengan hidup sesuai dengan norma-norma dasar dan nilai-nilai seni. Siswa berusaha untuk menjaga keseimbangan (harmoni) dalam jasmani dan rohani, dalam kecerdasan dan juga emosi.

Ajaran PSHT adalah cara hidup, jalan hidup. Demikian juga unsur olahraga didalamnya bela diri pencak silat hanya aspek kecil. Dengan pendekatan yang lebih luas ini, seni bela diri pencak silat didalam ajaran PSHT bukanlah olahraga pertempuran tetapi seni pertempuran. Sebuah seni meredam amarah, nafsu serta perilaku yang menyimpang sesuai kitahnya.

“Maaf setiap mendengar ada gesekan antar sesama yang melibatkan warga PSHT tentu menjadikan keprihatinan tersendiri bagi kita. Sudah saatnya kita semua memberikan yang terbaik bagi saudara kita semua bangsa ini dan negara ini. Apapun alasanya PSHT tidak pernah mengajarkan perilaku yang menyimpang dan negative pandangan masyarakat justru sebaliknya,” urai Sigit Sudaryadi.

Pungkasnya,  segala bentuk tantangan dan rintangan itu pada hakikatnya bukan berada di luar diri kita. Tapi ada di dalam diri kita sendiri. Sebab, musuh terbesar umat manusia adalah dirinya sendiri dan hawa nafsunya sendiri. Menyadari itu, warga PSHT dihimbau, tahun baru Hijriyah dijadikan evaluasi diri (mesu budi), perbanyak tirakat dan berlomba membersihkan hati. Kemudian, dengan penuh kesadaran bersama-sama kembali pada nilai-nilai ajaran PSHT yang berbudi luhur tahu benar dan salah. (pr)


EmoticonEmoticon