POLJATIM || Momentum
bulan Muharam 1439 Hijriyah tahun 2017 ini menjadikan satu waktu titik balik
terhadap perenungan terhadap konsekuensi hidup berlandaskan Ketuhanan Yang Maha
Esa yang lebih baik. Tidak terkecuali lagi keberadaan salah satu perguruan
silat yang cukup legendaris tidak lain Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
senantiasa harus mampu memberikan nuansa yang teduh, damai terhadap sesama
disetiap lingkungan maupun komunitas dimana berada.
Seperti halnya
Sigit Sudaryadi Ketua Ranting PSHT Kecamatan Paron, Ngawi di bulan Muharam atau
Syuro mengajak untuk melakukan perenungan sejenak terhadap hakikat hidup yang
lebih bermartabat. Ia menandaskan, didalam PSHT telah mengajarkan tidak ada
kekuatan apapun diatas manusia yang bisa mengalahkan manusia kecuali kekuatan
yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran tersebut telah menjadi keyakinan
bagi semua warga PSHT itu sendiri sehingga menjadi kekuatan pribadi maupun
persaudaraan.
“Syuro sebagai
bulan untuk menundukan kepala kita masing-masing melakukan instropeksi diri
terhadap masa lampau yang telah diperbuat. Semua kesalahan menjadikan
pengalaman berharga yang akan datang dan perlu diketahui secara mutlak kita ini
tidak ada apa-apanya didepan Allah SWT. Sudah menjadi kewajiban untuk berbuat
baik terhadap sesama tanpa memandang ras, suku maupun agama. Agar PSHT ini
lebih bermartabat sesuai falsafahnya,” terang Sigit Sudaryadi, Selasa (26/09).
Sigit pun
berpesan kepada calon pendekar PSHT, didalam ajaranya digembleng sedemikian
rupa untuk menguasai dan mengenal ilmu bela diri pencak silat. Tentunya ilmu
itu sendiri berlandaskan adat budaya sebagai orang timur yang penuh etika dan
prinsip moral. Praktek seni bela diri memiliki
tujuan membantu siswa dalam hal ini calon pendekar PSHT agar mengembangkan
karakter jujur,terbuka dengan hidup sesuai dengan norma-norma dasar dan
nilai-nilai seni. Siswa berusaha untuk menjaga keseimbangan (harmoni) dalam
jasmani dan rohani, dalam kecerdasan dan juga emosi.
Ajaran PSHT adalah cara hidup, jalan
hidup. Demikian juga unsur olahraga didalamnya bela diri pencak silat hanya
aspek kecil. Dengan pendekatan yang lebih luas ini, seni bela diri pencak silat
didalam ajaran PSHT bukanlah olahraga pertempuran tetapi seni pertempuran.
Sebuah seni meredam amarah, nafsu serta perilaku yang menyimpang sesuai
kitahnya.
“Maaf setiap mendengar ada gesekan
antar sesama yang melibatkan warga PSHT tentu menjadikan keprihatinan
tersendiri bagi kita. Sudah saatnya kita semua memberikan yang terbaik bagi
saudara kita semua bangsa ini dan negara ini. Apapun alasanya PSHT tidak pernah
mengajarkan perilaku yang menyimpang dan negative pandangan masyarakat justru
sebaliknya,” urai Sigit Sudaryadi.
Pungkasnya, segala
bentuk tantangan dan rintangan itu pada hakikatnya bukan berada di luar diri
kita. Tapi ada di dalam diri kita sendiri. Sebab, musuh terbesar umat manusia
adalah dirinya sendiri dan hawa nafsunya sendiri. Menyadari itu, warga PSHT dihimbau,
tahun baru Hijriyah dijadikan evaluasi diri (mesu budi), perbanyak tirakat dan
berlomba membersihkan hati. Kemudian, dengan penuh kesadaran bersama-sama
kembali pada nilai-nilai ajaran PSHT yang berbudi luhur tahu benar dan salah.
(pr)

EmoticonEmoticon