POLJATIM || Peristiwa pembacokan secara brutal
yang dilakukan Muh Mudiono terhadap calon istrinya Neny Agustin hingga tewas
membuat kesedihan mendalam bagi kedua orang tua pelaku. Saat dijumpai
dikediamanya Dusun Pondok, RT 05/RW 02, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi
pada Selasa kemarin sore sekitar pukul 16.30 WIB ada sederet cerita tentang Muh
Mudiono putra bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Sukatmi (70) ibu pelaku menuturkan, pagi
kemarin sebelum kejadian tidak ada gelagat apapun terhadap putranya Muh Mudino
bakal melakukan aksi keji terhadap calon menantunya tersebut. Seperti biasa aktivitas
putranya itu pun layaknya pemuda desa lainya tidak ada sikap atau perilaku yang
mencolok. Usai sarapan pagi Muh Mudiono kata Suyatmi mempersiapkan berkas dan
syarat pernikahanya untuk dikirim ke calon istrinya Neny di Dusun Kapungan,
Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo.
“Kados
biasane enjing sakderenge kedadosan perkawis niku anak kulo sarapan terus ngumpulke
surat-surat kangge nikah (Seperti biasanya pagi sebelum kejadian anak saya
sarapan terus mengumpulkan surat untuk nikah-red),” terang Suyatmi.
Urainya, setelah semuanya dirasa komplit
Muh Mudiono pamit mau pergi ke rumahnya Neny guna mengirim surat kelulusan yang
telah jadi. Menyusul sehari sebelum kejadian terang Suyatmi, Muh Mudiono
melengkapi diri persyaratan nikah salah satunya surat kesehatan maupun foto.
Tanpa menaruh curiga selaku orang tua Suyatmi mengamini pernikahan Muh Mudiono
yang hanya lulusan SD dengan gadis pujaanya Neny Agustin yang masih duduk
dibangku kelas 2 sekolah setingkat MTs diwilayah Kecamatan Kedunggalar.
Namun bak disambar petir ketika mendapat
informasi jika Muh Mudiono melakukan aksi pembacokan kepada calon istrinya demikian
juga kepada calon ibu mertua, kakek Neny berikut tetangganya. Suyatmi dengan
kalimat terbata-bata menuturkan, dirinya hanya bisa pasrah mendengar kalau anak
kandungnya itu berbuat keji kepada calon istrinya dengan cara dibacok secara
membabi buta menggunakan parang. Seketika itu kabar pembacokan langsung
disampaikan ke suaminya Parno (62) yang tidak lain bapak angkat pelaku Muh
Mudiono.
“Kulo langsung lemes mboten saged nopo-nopo
bakdone mireng kabar ngoten niku (Saya langsung lemas tidak bisa berbuat
apa-apa sesudah mendengar kabar seperti itu-red),” sambung Suyatmi.
Sambungnya
hubungan antara Muh Mudiono dengan calon istrinya Neny Agustin sudah
berlangsung sekitar 5 bulan. Pada awalnya selaku orang tua Suyatmi tidak begitu
setuju terhadap rencana nikah anaknya dengan korban. Mengingat Neny masih duduk
dibangku sekolah dan harus menyelesaikan sekolahnya dulu. Tetapi apa boleh
buat, seringkali ketika Neny diajak pelaku kerumahnya selalu ditanya kenapa mau
dengan Muh Mudiono. Jawaban korban Neny saat itu tuturnya, sudah mencintai Muh
Mudiono dan siap untuk dinikah.
“Kulo nyuwun anak kulo enggal kepanggih
kaliyan pak polisi punopo nyerahke awake mboten sah mlayu kersane perkarane
niku enggal rampung (Saya minta anak saya secepatnya ketemu oleh pak polisi
atau menyerahkan diri tidak usah melarikan diri supaya perkaranya cepat
selesai-red),” jelasnya.
Pungkasnya, Muh
Mudiono dimata keluarganya terbilang sebagai anak kreatif dan tekun bekerja
mencari perekonomian terbukti selama tiga tahun terakhir sebagai pencari kroto.
Selain itu selaku orang tua Suyatmi tidak tahu asal muasal senjata parang yang
dipakai untuk membacok korban dan tiga orang lainya itu. Sebab, yang dia tahu
ketika berangkat ke rumahnya Neny tidak membawa senjata tajam apapun.
Terpisah Kapolsek
Jogorogo AKP Budi Cahyono menuturkan, hingga pagi ini sekitar pukul 08.00 WIB Rabu,
(27/09), keberadaan pelaku pembacokan Muh Mudiono belum tertangkap. Diprediksi
pelaku masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe.
Selain itu pihaknya bersama Satreskrim Polres Ngawi terus mendalami motif
pelaku menghabisi korban berikut darimana mana asal senjata parang yang dipakai
pelaku. (pr)

EmoticonEmoticon