Wednesday, 4 October 2017

Sejauh Makna Ganti Langse Palenggahan Agung Srigati, Ritual Budaya Khas Ketonggo

POLJATIM || Iya, bicara wilayah Ngawi yang konon pada massanya masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram banyak meninggalkan kisah terutama adat budaya  yang masih dilestarikan hingga kini. Seperti ritual budaya Ganti Langse atau ganti selambu berupa mori putih yang difungsikan sebagai penutup Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo, Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sebagai tradisi tahunan setiap bulan Muharam/Suro.

Satu ritual tradisi yang sarat magis tersebut digelar secara khidmat penuh penghayatan diawali dengan penyerahan kain selambu mori warna putih bersih sepanjang 15 meter. Selambu mori itu diserahkan oleh Dwi Rianto Jatmiko Ketua DPRD Ngawi ke Joko Setiyono Kades Babadan yang didampingi para pejabat setempat.

penyerahan selambu mori sendiri diiringi sebuah Tari Srigati yang dilakukan 8 penari yang masih gadis/perawan agar tercipta tari yang indah, luwes dan anggun pada saat prosesi tradisi dilakukan. Menurut Mbah Marji juru kunci Srigati atau Alas Ketonggo mengatakan, mulai dilaksanakan pada tahun 1988 oleh Mbah Somodarmojo Kepala Desa Babadan saat itu.

Pada intinya Ganti Langse merupakan bentuk perwujudan atas sebuah harapan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai harapan baru akan perjalanan hidup menuju ketentraman dan kesejahteraan. Ritual selanjutnya berupa bancaan atau biasa dikenal dengan kalimat ‘Slametan’ merupakan persembahan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipimpin pemangku adat setempat.

Dalam slametan ini dihidangkan berbagai makanan dan jajanan pasar. Untuk makananya dimulai tumpeng, urap-urap, bubur sengkolo, bubur merah putih, serta aneka ragam polo pendem. Sedangkan jajanan pasar ada tujuh jenis yang mewakili fiosofi sebuah harapan pitulungan atau pertolongan yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Urap-urap memiliki simbol membahur atau bersatu padu serta menjadi manusia yang bermanfaat antara satu dengan yang lain.

“Ganti Langse jangan dikaitkan dengan upacara pemujaan ataupun hal tertentu melainkan sebagai doa harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hidup ini bisa sejahtera dan selamat dalam hidup bermasyarakat tidak ada gangguan apapun,” terang Mbah Marji.

Untuk pelaksanaan Tradisi Ganti Langse ujar Mbah Marji memang dilaksanakan setiap bulan Muharam/Suro tepat pada bulan purnama dalam hal ini jelas tanggal 15 hitungan bulan Hijriyah tanpa melihat hari maupun weton pasaran dalam hitungan penanggalan Jawa.

Usutpun jadi, menurut seorang pengunjung asal Solo Jawa Tengah mengaku kain Langse/mori yang baru dia dapat sangat dipercaya mampu menangkal segala macam bahaya dan dapat dipercaya memperlancar segala urusan baik ekonomi maupun lainya.

“Langse itu memang mempunyai tuah tersendiri selama kita percaya misalkan bagi seorang pedagang kalau menyimpan potongan kain itu bisnisnya lancar. Demikian pula seorang pejabat apabila menyimpan bisa karirnya meningkat. Namun itu semua tergantung kita masing-masing,” terang Ngadwiyono.

Kemudian terkait tradisi Ganti Langse sendiri menurut Mbah Marji atau disebut Ki Among Jati ini secara gamblang menerangkan asal-usul Palenggahan Agung Srigati maupun tradisi Ganti Langse itu sendiri. Mbah Marji dengan rambut gondrong berjenggot panjang inipun secara tuntas menerangkan asal mula dari keberadaan Palenggahan Agung Srigati.

Menurutnya sejarah mencatat keberadaan Srigati di Alas Ketonggo erat kaitanya dengan masa runtuhnya Kerajaan Majapahit kala itu dibawah Prabu Brawijaya V. Mbah Marji mengutip pernyataan Gusti Pangeran Dorodjatun dari Kasunanan Surakarta tahun 1974 ketika itu mendatangi Alas Ketonggo sesuai mata bathinya atau hasil penerawanganya mengatakan didekat lokasi Tempuran Pesing ada Punden Krepyak Syeh Dombo.

Di punden itu mendasar keterangan Pangeran Dorodjatun saat itu dapat dikaitkan dengan riwayat perjalanan atau lengsernya Prabu Brawijaya sebelum muksa di puncak Gunung Lawu. Di Punden Krepyak Syeh Dombo yang sekarang dikenal Punden Srigati itu ditengarai Prabu Brawijaya melepaskan baju kebesaranya dengan dilanjutkan siram jamas di Kali Tempur yang berada kurang lebih 200 meter dari Punden Srigati.

Setelah siram jamas sebagai bentuk penyucian diri lalu Prabu Brawijaya bersemedi/berdoa dan mendapatkan satu petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk pergi ke puncak Gunung Lawu secara Islam dengan gelar Sunan Lawu. Histori itu kata Mbah Marji masih mengutip pernyataan dari Pangeran Dorodjatun, bahwa Alas Ketonggo pada dasarnya mempunyai riwayat keterpaduan dengan Kerajaan Majapahit.

Hal itu sesuai survey Pangeran Dorodjatun yang diawali dari wilayah Trowulan Mojokerto sampai Alas Ketonggo berlanjut ke puncak Gunung Lawu. Kemudian dari pengamatan penulis dari lokasi Alas Ketonggo memang sangat dirasakan ada semacam spirit dari Kerajaan Majapahit. Alas Ketonggo, sebuah hutan yang cukup fenomenal menjadi saksi bisu Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V.

Alas Ketonggo sejak jaman dulu menjadi salah satu tempat yang sangat sakral di tanah Jawa dan hanya orang setingkat Brahma lah ataupun orang yang memiliki klasifikasi khusus yang bisa memasuki kawasan tersebut. Di dalam Alas Ketoggo terdapat sungai yang cukup terkenal di Jawa Timur yaitu Sungai Tempur, dinamakan Sungai Tempur karena sungai tersebut tempat bertemunya dua arus yang berbeda mata air.

Sungai tempur menjadi salah satu tempat yang wajib disinggahi pada prosesi acara. Di sungai tersebut masyarakat berbondong-bondong mandi membersihkan diri dari kotoran yang menempel di tubuh mereka. Prosesi mandi di Sungai Tempur ini merupakan cerminan peristiwa dimasa lalu. (pr)


EmoticonEmoticon