POLJATIM || Ratusan pendekar silat terlihat diantara ribuan pengunjung di obyek wisata Srigati masuk Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi. Mereka bukanya untuk duel adu kesaktian justru sebaliknya bersatu memeriahkan ritual budaya Ganti Langse Palenggahan Agung Srigati yang sudah ditunggu ribuan pengunjung sejak pagi.
Tepat pukul 13.00 WIB pada Rabu, (04/10), ratusan pendekar silat dari PSHT dan IKS mulai unjuk kebolehan membawa dua gunungan setinggi hampir 2 meter berisi sayur mayur dan buah-buahan sebagai satu sajian sedekah bumi. Dua gunungan ini diarak atau dikirab oleh para pendekar silat mulai start dari Dusun Brendil, Desa Babadan menuju Palenggahan Agung Srigati yang berada ditengah Alas Ketonggo dengan jarak sekitar 1,5 kilometer.
“Ini baru luar bisa ada budaya yang dikemas secara universal seperti Ganti Langse di Srigati ini. Menarik banget untuk dilihat bisa menjadi satu agenda tahunan kedepanya,” terang Utari salah satu pengunjung dari Solo, Rabu (04/10).
Seperti yang terlihat, untuk rombongan pertama kirab terdiri para kepala desa (kades) se-wilayah Kecamatan Paron, Dwi Rianto Jatmiko Ketua DPRD Ngawi dan beberapa pejabat Pemkab Ngawi. Dengan memakai pakaian adat Jawa rombongan ini membawa Langse atau mori putih sepanjang 15 meter yang dipergunakan untuk mengganti Langse sebelumnya atau penutup Palenggahan Agung Srigati.
Disusul dua gunungan berisi hasil bumi baik sayur dan buah yang di arak ratusan pendekar silat dan ditutup para ibu-ibu membawakan makanan tradisional Ngawi. Setelah sampai di Palenggahan Agung Srigati langsung dilaksanakan prosesi penyerahan Langse dari Dwi Rianto Jatmiko Ketua DPRD Ngawi ke Joko Setiyono Kepala Desa (Kades) Babadan.
“Kalau puncak acaranya yakni Ganti Langse atau ganti mori penutup Palenggahan Agung Srigati malam nanti. Karena proses pergantian mori itu sendiri sudah pakem sehingga tidak bisa diganti waktunya,” ujar Sukadi Kabid Kebudayaan Disparpora Ngawi.
Untuk tradisi Ganti Langse dari keterangan Mbah Marji juru kunci Srigati dijelaskan, mulai dilaksanakan pada tahun 1988 oleh Mbah Somodarmojo Kades Babadan saat itu. Pada intinya Ganti Langse merupakan bentuk perwujudan atas sebuah harapan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai harapan baru akan perjalanan hidup menuju ketentraman dan kesejahteraan.
“Ganti Langse jangan dikaitkan dengan upacara pemujaan ataupun hal tertentu melainkan sebagai doa harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hidup ini bisa sejahtera dan selamat dalam hidup bermasyarakat tidak ada gangguan apapun,” terang Mbah Marji.
Untuk pelaksanaan Tradisi Ganti Langse ujar Mbah Marji memang dilaksanakan setiap bulan Muharam/Suro tepat pada bulan purnama dalam hal ini jelas tanggal 15 hitungan bulan Hijriyah tanpa melihat hari maupun weton pasaran dalam hitungan penanggalan Jawa. (pr)
EmoticonEmoticon