POLJATIM || Setelah menjalani perawatan
hampir sepekan di RS At Tin Ngawi kondisi Sumiyati (45) ibu Neny Agustin korban
pembantaian si parang maut Muh Mudiono akhirnya terus membaik dan dipersilahkan
pulang oleh dokter. Saat ditemui dirumahnya di Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan
Jogorogo, Ngawi ditemani suaminya Sujari (55) dengan raut wajah sedih Sumiyati
mulai biasa diajak komunikasi untuk menceritakan awal kejadian pembacokan yang
menimpa putri bungsunya Neny Agustin hingga meninggal.
“Sudah mending tidak begitu pusing hanya
saja luka ditangan maupun leher harus diperiksakan lagi ke dokter,” demikian
kata Sumiyati mengawali pembicaraan dengan awak media, Selasa (03/10).
Pada Selasa 26 September 2017 tentu
sebagai hari yang cukup dikenang bagi Sumiyati dan keluarga besarnya. Mengingat
pada waktu tersebut sebuah petaka menimpa, namun apapun alasanya kini Sumiyati
sedikit demi sedikit mulai menerima kenyataan itu sebagai musibah meski berat
untuk dirasakan. Sebelum kejadian pada Selasa pagi masih segar dalam ingatan
Sumiyati demikian juga Sujari menjalani aktivitasnya sehari-hari tanpa ada
perasaan bakal terjadi musibah yang bakal dikenang seumur hidupnya.
Menjelang siang Sumiyati seperti biasa bergegas
ke sawah untuk mencari rumput untuk pakan ternak kambingnya. Demikian juga
Sujari sebagai kepala rumah tangga pagi itu harus bekerja sebagai kuli proyek
irigasi di Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, maklum keberadaanya sebagai
keluarga jauh dari kata mapan. Tetapi dengan penghasilan pas-pasan tidak
membuat Sujari maupun Sumiyati berkeluh kesah.
Bagi Sumiyati pagi itu tidak ada firasat
apapun tetapi sebaliknya Sujari justru merasakan ada satu keanehan pada diri
Neny Agustin. Ketika Sujari pamit untuk bekerja tidak seperti biasa Neny
mencium tangan bapaknya tersebut. Padahal kata Sujari selama ini ketika
dipamiti Neny hanya menjawab untuk hati-hati dijalan. Dengan perilaku yang lain
dari biasanya itu dalam hati kecil Sujari ada pikiran was-was.
“Pagi sebelum kejadian ketika saya pamit
kepada anak saya itu tidak seperti biasanya. Dia (Neny-red) mencium tangan
saya. Habis itu saya langsung berangkat kerja jadi kuli proyek tetapi selaku
orang tua pasti bertanya mau ada apa dengan diri anak saya ini. Dan tahu-tahu
ada musibah seperti itu,” kenang Sujari.
Hal berbeda disampaikan Sumiyati, usai
dari sawah dirinya langsung menuju ke kandang ternak kambing miliknya itu yang
berada di depan rumah untuk menaruh rumput. Lantas dia pun menuju rumah dan
melihat Muh Mudiono bersama Neny Agustin duduk dikursi emper rumah. Sebagai
orang tua Sumiyati juga menyapa pelaku Muh Mudiono.
“Waktu saya masuk rumah pelaku dan anak
saya duduk dikursi emper. Dan di meja rumah ada kopi dua gelas saya tanya
kepada Muh Mudiono apa tadi diantar temanya dan dijawab iya,” terang Sumiyati.
Urainya, habis itu dia menyuruh pelaku
bersama putrinya untuk sarapan ke dapur. Saat itulah awal mulai kejadian, tanpa
sebab yang jelas mendadak kepala bagian belakang Sumiyati langsung dipukul
dengan batu hingga tersungkur. Tidak berselang lama pelaku mulai beringas
dengan sabit langsung membacok tangan, pundak hingga leher Sumiyati hingga
beberapa kali. Melihat kejadian yang tidak wajar secara spontan Neny Agustin
meloncat mendekati tubuh ibunya yang sudah berdarah.
Bukanya redam malah Muh Mudiono berganti
senjata parang mulai membacok leher Neny secara membabi buta. Dengan sisa
tenaga yang ada Sumiyati langsung lari menyelamatkan diri ke rumah tetangganya
Sumiyem (40) yang berada disamping rumahnya. Mendengar ada jeritan histeris
membuat Pawiro Sikas (65) kakek korban demikian juga Sumiyem minta pertolongan
warga sekitarnya.
Namun pada waktu yang bersamaan pelaku
muncul dari dalam rumah Sumiyati dengan membawa dua bilang senjata tajam antara
sabit dengan parang langsung membacok beberapa kali mengenai tangan Sumiyem
demikian kepala dan tangan Pawiro Sikas. Kedua orang ini langsung roboh
bersimbah darah.
“Pas kejadian itu ada Mbak Darwati
tetangga saya melihat ada pembacokan ketika mendekat malah dia diancam akan
dibunuh oleh pelaku. Dia pun lari menyelamatkan diri dan meminta bantuan warga
lainya. Tetapi ketika warga berdatangan pelaku sudah kabur,” urai Sumiyati.
Bebernya lagi, sebelum kejadian dirinya
tidak melihat ada sesuatu dalam diri pelaku. Hanya saja sepekan sebelum
peristiwa yang merenggut putrinya itu pelaku sempat bilang kepada Sumiyati
apabila Neny meninggal dirumah pelaku akan menjadi tanggungjawabnya. Namun jika
Neny meninggal dirumahnya maka menjadi tanggungjawab antara Sumiyati maupun Sujari.
“Mendengar perkataan seperti itu saya
sendiri tidak tahu kalau bakal terjadi pembacokan pada anak saya. Menurut saya
peristiwa itu sudah direncanakan oleh pelaku sebelum kejadian,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Sujari,
sebelum ada peristiwa tragis beberapa kali pelaku berkeluh kesah pada dirinya
tentang kesulitan mencari kroto pakan burung. Oleh Sujari curahan hati pelaku
juga ditanggapi secara positif dan meminta pelaku untuk sabar dalam mencari
rejeki.
Dengan peristiwa yang menyebabkan Neny Agustin
meninggal, Sujari meminta pelaku Muh Mudiono warga Dusun Pondok, Desa Macanan,
Kecamatan Jogorogo, untuk dihukum berat sesuai perilakunya. Paling tidak dia
berharap, pelaku dihukum mati dan minimalnya seumur hidup. Menyusul dari aksi
kejinya yang telah membantai putrinya Neny demikian juga melakukan tindak
penganiyaan secara kejam kepada tiga orang lainya itu.
“Saya minta dengan sangat pelaku dihukum
mati. Sebab anak saya sudah dibunuh dengan cara seperti itu dan minimalnya
seumur hidup. Kalau tidak ada keadilan maka saya akan ke Jakarta menemui Bapak
Presiden Jokowi agar hukum ditegakan,” pungkas Sujari. (pr)

EmoticonEmoticon